Musik Dangdut, Budaya Sawer Yang Bikin Geger


Sharing is caring!

gardcornerparsian.com – Bagi masyarakat yang berada di pulau Jawa, tidak asing dengan budaya sawer. Yaitu budaya untuk memberikan uang kepada penyanyi perempuan musik dangdut yang biasanya meramaikan sebuah hajatan. Dangdut sendiri memiliki akar budaya yang dekat dengan budaya tradisional Indonesia dengan gendangnya. Dalam seni musik Jawa terdapat seni tayub atau gambyong yang juga memiliki ciri khas hentakan gendang.

Dengan perkembangan musik dangdut yang berasimilasi dengan musik daerah sejenis tayub, menghadirkan jenis dangdut koplo yang lebih energik. Dan kebiasaan sawer menjadi hal yang biasa dilakukan di acara-acara musik tradisional seperti tayub atau jaipong. Lelaki biasanya akan menyawer, jika ingin berjoget dengan penyanyi atau penari, dengan memberikan uang ke tangan penyanyi/penari tersebut. Bahkan, ekstrimnya, uang saweran di acara-acara tertentu diletakkan ke dalam kemben sang penyanyi.

Nyawer di musik dangdut baru umum terjadi di masa setelah tahun 90an. Hal ini dimulai dengan maraknya dangdut jenis koplo yang lebih bebas, energik dan menggabungkan seni music tradisional Jawa. Di acara musik dangdut koplo, kita bisa lihat banyak laki-laki yang melakukan saweran kepada penyanyi, baik di atas panggung maupun dari bawah panggung. Tim musik dangdut akan dengan sigap menyediakan kardus untuk menampung saweran yang ada di tangan penyanyi. Sehingga sang penyanyi bisa terus menerima saweran dari penonton lainnya sambil tetap bernyanyi dan bergoyang.

Baca juga : Udah Ngopi Belum? Minuman Yang Paling Sering Dikonsumsi Masyarakat Indonesia

Untuk level masyarakat menengah ke bawah, jumlah saweran biasanya menggunakan uang kertas mulai dari pecahan dua ribuan, lima ribuan hingga lima puluh ribuan. Tergantung acara dan kelas penontonnya. Walaupun dengan pecahan dua ribuan, namun biasanya penonton memberikan saweran bukan satu lembar, namun bisa sepuluh lembar dalam sekali sawer.

Apa makna sawer yang selalu hadir dalam pertunjukan musik dangdut? Jika dipahami lebih dalam, sawer bukan berarti memberikan tips kepada penyanyi dangdut. Karena jika ini tips tentu jumlah yang diberikan tidak banyak dan tidak dilakukan oleh beberapa orang penonton untuk satu orang penyanyi. Jika dalam hajatan tersebut menghadirkan tiga orang penyanyi, yang biasanya juga mendapat saweran, tentu ini juga bukan dianggap sebuah tips karena biasanya yang menyawer justru berasal dari kalangan pas-pasan.

Budaya sawer ternyata lebih kepada budaya patriarkal dimana ada ego laki-laki yang menjadi dasar dari pemberian sawer yang terkadang tidak masuk akal tersebut. Dengan ideologi gender yang mengagungkan satu jenis kelamin dan harus menguasai jenis kelamin lainnya, sawer telah memenuhi hasrat tersebut. Uang dianggap media untuk memiliki perempuan. Sehingga makin besar sawer makin besar hasrat memiliki terpenuhi. Karena dalam hal ini perempuan telah dibendakan yang bisa dimiliki melalui uang dengan cara menyawer. Makin besar sawer, maka dianggap nilai perempuan ini makin besar dan ego laki-laki makin terpuaskan karena menganggap mampu menghargai perempuan lebih tinggi.

Akan naif bila sawer ini menjadikan seorang perempuan tidak memiliki harga diri karena mau disawer dengan sejumlah rupiah. Dan dianggap tidak bermoral karena memanipulasi hasrat kelaki-lakian dengan terus mendorong sang laki-laki untuk menyawer. Karena, hal ini sudah menjadi isu lama mengenai norma gender dimana manusialah yang menciptakan fiksi akan sebuah gender dan nilai-nilainya.

Sehingga sawer akan kembali kepada budaya masyarakat setempat dan biasanya mendapat pertentangan dari sisi agama. Dari sisi hiburan, sawer hanya dianggap sebagai cara untuk mendapat uang lebih yang dibutuhkan oleh si penyanyi tersebut dengan memberikan hiburan yang atraktif. Apapun itu, sawer dan dangdut seperti dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Tags: , , , , ,
shares